Latar Belakang
Fiqih merupakan suatu disiplin ilmu yang amat penting dalam praktek kehidupan sehari-hari, didalamnya menjelaskan tentang berbagai jenis aturan-aturan syara’ dan hukum-hukum islam. Agama islam yang dikenal sebagai agama yang bersifat universal dengan berbagai kondisi dinamika zaman, menyebabkan ilmu ini menjadi gandrungan yang melekat dikalangan umat islam, sehingga muncullah berbagai macam interprestasi-interprestasi yang bercabang-cabang.
Namun dengan melajunya IPTEK dimasa kini, fiqih kini mulai mengalami penyempitan dalam aplikasinya. Hal ini ditandai dengan semakin majunya peradaban manusia dalam hal teknologi dan sedikitnya praktek kerja ilmu fiqih walaupun ilmu fiqih sendiri sudah banyak menjadi perbincangan dan perdebatan dikalangan umum apalagi tentang masalah thoharoh.
Nah, bertolak dari pandangan tersebut kami disini akan mengajak menyelami kembali kajian-kajian ilmu fiqih yang terkait dengan masalah thoharoh dengan harapan dapat memberikan manfa’at ilmu dan menyadari diri untuk merealisasikan ilmu tersebut kedalam realitas kehidupan

HADAS KECIL
Pengertian hadas kecil
Arti hadas kecil menurut istilah syara’ ialah sesuatu kotoran yang maknawi (tidak dapat dilihat dengan mata kasar), yang berada pada anggota wudhu’, yang menegah ia dari melakukan solat atau amal ibadah seumpama solat, selama tidak diberi kelonggaran oleh syara’. Hadas kecil ini tidak akan terhapus melainkan dengan mengambil wudhu’ yang sah. Selama mana seseorang itu dapat mengekalkan wudhu’nya, maka selama itu ia bersih dari hadas kecil. Sebabnya dinamakan hadas kecil ialah kerana kawasan yang didiami oleh hadas kecil ini kecil sahaja iaitu sekadar anggota wudhu’.
Perkara-perkara yang menyebabkan kedatangan hadas kecil (membatalkan wudhu’)
Wudhu’ seseorang itu akan terbatal dengan salah satu dari 5 sebab berikut;
1.      Keluar sesuatu dari 2 jalan iaitu qubul atau dubur seperti kencing, berak atau buang angin (kentut).
2.      Hilang akal dengan sebab gila atau mabuk atau sakit.
3.      Tidur nyenyak, kecuali tidur orang yang duduk, yang tetap kedua papan punggungnya.
4.      Bersentuh kulit lelaki dan kulit perempuan yang halal berkahwin dengan tidak berlapik dan keduanya telah dewasa.
5.      Menyentuh qubul atau dubur manusia dengan tapak tangan tidak berlapik walaupun qubul atau duburnya sendiri.
Perkara-perkara yang diharamkan dengan sebab hadas kecil
1.      Mendirikan solat, sama ada yang fardhu atau yang sunat.
2.      Tawaf, sama ada yang fardhu atau yang sunat.
3.      Menyentuh Al-Qur’an atau menanggungnya.
Rukun wudhu’
Rukun mengambil wudhu’ ada 6 perkara iaitu;
1.    Niat berwudlu
2.    Membasuh muka
3.    Membasuh kedua tangan sampai siku-siku
4.    Mengusap rambut
5.    Membasuh kaki sampai mata kaki
6.    Tertib
Sunat-sunat yang dituntut ketika berwudhu’
1.      Bersugi – menggosok gigi.
2.      Mengadap kiblat.
3.      Membaca Basmalah.
4.      Membasuh dua tapak tangan hingga ke pergelangannya.
5.      Berkumur-kumur.
6.      Memasukkan air ke hidung dan menghembuskannya keluar.
7.      Menyapu seluruh kepala.
8.      Menyapu kedua telinga luar dan dalam.
9.      Menyelat-nyelat janggut yang lebat.
10.  Menyelat-nyelat anak jari tangan dan kaki.
11.  Mendahulukan yang kanan dari yang kiri.
12.  Meniga-nigakan basuh dan sapu pada anggota-anggota wudhu’ yang telah disapu dan dibasuh.
13.  Mualat (berturut-turut), tidak diselangi oleh perceraian masa yang lama antara satu anggota dengan anggota yang lain.
14.  Membaca doa selepas wudhu’ disempurnakan.
HADAS BESAR
Pengertian hadas besar
Hadas besar mengikut istilah syara’ ertinya sesuatu yang maknawi (kotoran yang tidak dapat dilihat oleh mata kasar), yang berada pada seluruh badan seseorang, yang dengannya menegah mendirikan solat dan amal iadah seumpamanya, selama tidak diberi kelonggaran oleh syara’. Selama seseorang itu tidak menempuh atau melakukan salah satu perkara yang menyebabkanhadas besar, maka selama itu badannya suci dari hadas besar. Sebab dinamakan hadas besar ialah kerana kawasan yang didiami atau dikenai ole hadas besar ini terlalu luas iaitu meliputi seluruh badan dan rambut.
Perkara-perkara yang menyebabkan kedatangan hadas besar
Seseorang itu disebut berhadas besar menakala menempuh atau melakukan salah satu daripada 6 perkara yang berikut :
1.      Keluarnya mani (air sperma) bagi laki-laki
2.      Bertemunya 2 alat kelamin (kelamin laki-laki dan kelamin perempuan)
3.      Haid/Menstruasi
4.      Melahirkan
5.      Nifas (keluarnya darah setelah melahirkan)
6.      Meninggal dunia

Perkara-perkara yang diharamkan dengan sebab berhadas besar
1.      Sholat
2.      Tawaf
3.      Menyentuh Al-Qur’an
4.      Membaca Al-Qur’an.
5.      I’tikaf
6.      Berpuasa
7.      Berjima’
PROBLEMATIKA

Menyentuh Quran Terjemahan Tanpa Wudhu

Dewasa ini mungkin telah menjadi suatu yang amat umum dikalangan masyarakat bahwa menyentuh Al-Qur’an/Al-Qur’an terjemah tanpa berwudlu sudah menjadi kebiasaan, bahkan telah menjadi budaya yang tak disadari hukumnya, maka disini kami akan membahas tentang bagaimana hukum menyentuh Al-Qur’an/Al-Qur’an terjemah bagi orang yang tidak dalam keadaan suci.
Para ulama berbeda pendapat dalam masalah keharusan berwudhu' untuk menyentuh mushaf. Sebagian ulama mensyaratkan namun sebagian lainnya tidak mensyaratkannya.
1. Yang Mengharuskannya
Di antara ulama yang mengharuskan berwudhu' sebelum menyentuh mushaf adalah Al-Imam Abu Hanifa, Al-Imam Malik dan Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahumullah.
2. Yang Tidak Mengharuskannya
Sedangkan para ulama dari kalangan mahzab Zhahiri tidak mengharuskan berwudhu' untuk menyentuh mushaf.
Penyebab Perbedaan
Sebenarnya kedua kelompok yang berbeda pendapat ini sama-sama menggunakan dalil ayat Quran yang satu juga, yaitu:
Tidaklah menyentuhnya kecuali mereka yang disucikan (QS. Al-Waqiah: 79)
Namun metode pendekatan masing-masing saling berbeda. Kelompok yang mengharuskan wudhu' menafsirkan kata al-muthahharun (mereka yang disucikan) di dalam ayat di atas sebagai manusia. Dan lafadz laa yamassuhu bernilai larangan bukan sekedar kabar atau pemberitahuan belaka.
Jadi kesimpulan hukumnya menurut kelompok ini adalah manusia tidak boleh menyentuh mushaf Al-Quran kecuali bila telah disucikan. Dan makna disucikan adalah bahwa orang itu sudah berwudhu.
Kelompok yang tidak mewajibkan wudhu' menafsirkan kata al-muthahharun di dalam ayat di atas sebagai malaikat. Sehingga tidak ada kewajiban bagi manusia untuk berwudhu' ketika menyentuh mushaf Al-Quran.
Selain itu lafadz laa yammassuhu (tidak menyentuh Al-Quran) menurut mereka tidak bernilai larangan melainkan bernilai khabar (pemberitahuan) bahwa tidak ada yang menyentuh Al-Quran selain para malaikat. Maka tidak ada larangan apapun bagi seseorang untuk menyentuh mushaf meski tidak dalam keadaan suci.
Namun sumber perbedaan di antara keduanya memang bukan semata-mata perbedaan dalam memahami ayat di atas saja, tetapi memang ada dalil lainnya yang digunakan untuk menguatkan argumentasi masing-masing.
Misalnya, mereka yang mengharuskan wudhu menambahi hujjah mereka dengan hadits berikut ini:
Dari Amru bin Hazm bahwa Rasulullah SAW menuliskan: Tidaklah seseorang menyentuh Al-Quran kecuali dalam keadaan suci. (HR Malik 1/199, Abdurrazzaq 1/341, Al-Baihaqi 1/87 dan Ad-Daruquthuni 1/121)
Hadits ini dinilai sebagai hadits hasan li ghairihi oleh para ulama. Namun sebagian orang tidak menerima hadits ini lantaran diriwayatkan lewat tulisan (mushahhafah).
Ijtihad Tentang Quran Terjemah
Kemudian pertanyaan berikutnya adalah apakah mushaf yang ada terjemahannya itu terbilang sebagai mushaf juga atau bukan?
Ada sebagian dari ulama yang memandang bahwa ketika sebuah mushaf tidak hanya terdiri dari lafadz Al-Quran, tetapi juga dilengkapi dengan terjemahan atau penjelasan-penjelasan lainnya, maka dinilai sudah bukan termasuk mushaf secara hukum.
Namun umumnya ulama tetap tidak membedakan antara keduanya, meksi telah dilengkapi dengan terjemahan, tetap saja ada lafadz arabnya. Sehingga identitas ke-mushafan-nya tetap lekat tidak bisa dipisahkan.



1 komentar:

 
Top